SHOUT HERE

03 February 2012

Kisah Ukasyah Ibnu Muhsin

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa setelah dekat waktu wafatnya, Rasulullah memerintahkan Bilal supaya azan. Memanggil manusia untuk sholat berjama'ah. Maka berkumpulah kaum Muhajirin dan Anshor ke Masjid Rasulullah saw. Setelah selesai sholat dua raka'at yang ringan kemudian beliau naik ke atas mimbar lalu mengucapkan puji dan sanjung kepada Allah swt, dan kemudian beliau membawakan khutbahnya yang sangat berkesan, membuat hati terharu dan menangis mencucurkan air mata. Beliau berkata antara lain: 

"Sesungguhnya saya ini adalah Nabimu, pemberi nasihat dan da'i yang menyeru manusia ke jalan Allah dengan izin-Nya. Aku ini bagimu bagaikan saudara yang penyayang dan bapa yang pengasih. Siapa yang merasa teraniaya olehku di antara kamu semua, hendaklah dia bangkit berdiri sekarang juga untuk melakukan qishas kepadaku sebelum dia melakukannya di hari Kiamat nanti"

Sekali dua kali beliau mengulangi kata-katanya itu, dan pada ketiga kalinya barulah berdiri seorang laki-laki bernama Ukasyah Ibnu Muhsin. Ia berdiri di hadapan Nabi s.a.w sambil berkata: "Ibuku dan ayahku menjadi tebusanmu ya Rasullah. Kalau tidaklah karena engkau telah berkali-kali menuntut kami supaya berbuat sesuatu atas dirimu, tidaklah aku akan berani tampil untuk memperkenankannya sesuai dengan permintaanmu. Dulu, aku pernah bersamamu di medan perang Badar sehingga untaku berdampingan sekali dengan untamu, maka aku pun turun dari atas untaku dan aku menghampiri engkau, lantas aku pun mencium paha engkau. Kemudian engkau mengangkat cambuk memukul untamu supaya berjalan cepat, tetapi engkau sebenarnya telah memukul tulang rusuk ku; saya tidak tahu apakah itu dengan engkau sengaja atau tidak ya Rasul Allah, ataukah barangkali maksudmu dengan itu hendak memukul untamu sendiri? ´Rasulullah s.a.w. berkata: "Wahai 'Ukasyah, Rasulullah s.a.w. sengaja memukulkamu."

Kemudian Nabi menyuruh Bilal supaya pergi ke rumah Fatimah, "Supaya Fatimah memberikan kepadaku cambukku" kata baginda. Bilal segera ke luar Masjid dengan tangannya diletakkannya di atas kepalanya. Dia heran dan tak habis fikir, "Inilah Rasulullah memberikan kesempatan untuk diambil qishas terhadap dirinya! Diketuknya pintu rumah Fatimah yang menyahut dari dalam : "Siapakah di luar?", "Saya datang kepadamu untuk mengambil cambuk Rasulullah" jawab Bilal. "Duhai bilal, apakah yang akan dilakukan ayahku dengan cambuk ini?" tanya Fatimah kepada Bilal."Ya Fatimah! Ayahmu memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengambil qishas terhadap dirinya." Bilal menegaskan.

"Siapakah pula gerangan orang itu yang sampai hati mengqishas Rasulullah?" tanya Fatimah kehairanan. Biarlah hamba saja yang menjadi ganti untuk dicambuk." Bilal r.a. tidak menjawab pertanyaan Fatimah r.a., sebaik sahaja Fatimah r.a. memberikan cambuk tersebut, Bilal pun mengambil cambuk tersebut dan membawanya masuk Masjid, lalu diberikannya kepada Rasulullah, dan Rasulullah pun menyerahkannya ke tangan Ukasyah. 

Suasana mulai tegang. Semua sahabat bergerak. Semua berdiri. Jangankan dicambuk, dicolek saja, ia akan berhadapan dengan kami. Mungkin begitu mereka bicara dalam hati. Semua mata merenung. Memandang Ukasyah dan sebilah cambuk. Saat itulah, Abu Bakar dan Umar r.a. bicara, "Hai Ukasyah! kami sekarang berada di hadapanmu, pukul qishas-lah kami berdua, dan jangan sekali-kali engaku pukul Rasulullah s.a.w!" Mungkin saat itu Umar meraba pedangnya. Seandainya saja, diizinkanakan aku penggal kepala orang yang menyakiti Rasulullah. Rasulullah menahan dua sahabatnya. Berkata sang pemimpin yang dicintai ini: "Duhai sahabatku, duduklah kalian berdua, Allah telah mengetahui kedudukan kamu berdua!" 

Kemudian berdiri pula Ali bin Abi Tholib sambil berkata. Kali ini lebih garang dari sahabat Abu Bakar : "Hai Ukasyah! Aku ini sekarang masih hidup di hadapan Nabi s.a.w. Aku tidak sampai hati melihat kalau engkau akan mengambil kesempatan qishas memukul Rasulullah. "Inilah punggungku, maka qishaslah aku dengan tanganmu dan deralah aku dengan tangan engkau sendiri!" 

Ali tampil ke muka. Memberikan punggungnya dan jiwa serta cintanya buat orang yang dicintainya. Subhanallah, dia tak rela sang Rasul disakiti. Ia merelakan berkorban nyawa untuk sang pemimpin. Nabi pun menahan. "Allah swt telah tahu kedudukanmu dan niatmu, wahai Ali!" Ali surut, bergantianlah kemudian tampil dua kakak beradik, Hasan dan Husein. "Hai Ukasyah! Bukankah engkau telah mengetahui, bahwa kami berdua ini adalah cucu kandung Rasulullah, dan qishaslah kami dan itu berarti sama juga dengan mengqishas Rasulullah sendiri!" Tetapi Rasulullah menegur pula kedua cucunya itu dengan berkata. Duduklah kalian berdua, duhai penyejuk mataku." 

Dan akhirnya Nabi berkata: Hai Ukasyah! pukullah aku jika engkau berhasrat mengambil qishas!" "Ya Rasul Allah! sewaktu engkau memukul aku dulu, kebetulan aku sedang tidak lekat kain di badanku," Kata Ukasyah. Kembali suasana semakin panas dan tegang. Semua orang berfikir, apa maunya si Ukasyah ini. Sudah berniat mencambuk Rasul, dia malah meminta Rasul membuka baju. Kurang ajar sekali si Ukasyah ini. Apa maunya orang ini. Tanpa bicara.Tanpa kata. Rasulullah membuka bajunya. Semua yang hadir menahan nafas. Banyak yang berteriak sambil menangis. Tak terkecuali. Termasuk Ukasyah. Ada yang tertahan di dadanya. 

Ukasyah segera maju melangkah, melepas cambuknya dan kejadian selanjutnya tatkala dia melihat putih tubuh Rasulullah dan tanda kenabian beliau, ia segera mendekap tubuh Nabi sepuas-puasnya sambil berkata : "Tebusanmu adalah Rohku ya Rasulallah, siapakah yang  sampai hatinya untuk mengambil kesempatan mengqishas engkau ya Rasul Allah? Saya sengaja berbuat demikian hanyalah kerana berharap agar supaya tubuhku dapat menyentuh tubuh engkau yang mulia, dan agar supaya Allah swt dengan kehormatan engkau dapat menjagaku dari sentuhan api neraka." 

Akhirnya berkatalah Nabi saw, "Ketahuilah wahai para sahabat! barangsiapa yang ingin melihat penduduk Syurga, maka melihatlah kepada peribadi llelaki ini." Lantas bangkit berdirilah kaum Muslimin beramai-ramai mencium Ukasyahdi antara kedua matanya. 

Rasa curiga berubah cinta. Buruk sangka berubah bangga. Berkatalah mereka : Berbahagialah engkau yang telah mencapai darjat yang tinggi dan menjadi teman Rasulullah s.a.w di Syurga kelak! Ya Allah! Demi kemuliaan dan kebesaran Engkau mudahkan jugalah bagi kami mendapatkan syafa'atRasulullah s.a.w di kampung akhirat yang abadi! Amien...




0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Follow my page

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls