SHOUT HERE

31 May 2011

BLOG YANG BIADAP!!! MENGHINA ALLAH, RASUL DAN ISLAM....

Assalamu'alaikum semua...
minta sedikit perhatian kepada pembaca sekalian...
Disini ada satu blog yg betul2 menghina Allah, Rasul, Islam...
Sila perhatikan blog ini kemudian tepuk dada, tanya Iman masing2...apa nak buat dgn pemilik blog ini.

http://makcikhajjahsittalwuzara2u.wordpress.com/

PANTUN ORANG YANG MALAS SOLAT

Apasal laa, aku belum terfikir nak bentang sejadah
hidup senang rezeki datang melimpah,
nak dirikan sembahyang rakan baik setan suruh lengah-lengah,
Atau nak tunggu Allah tarik nikmatku sampai menangis keluar air mata darah

Untuk diriku dan kawan-kawanku yang tersayang...
Apasal la aku malas sembahyang,
Tuhan kasi aku jasad siap dengan bayang-bayang,
Bukan ke lebih beruntung daripada tiang,
Berdiri tanpa roh malam siang...

Apasal la aku malas sembahyang,
Kerja dah best keluarga pun dah senang,
negara pun dah aman tidak lagi hidup berdagang,
takkan lima minit lima waktu aku tak boleh luang..

Apasal la aku malas sembahyang,
Tuhan kasi otak supaya aku tak bangang,
Tuhan kasi ilmu boleh fikir susah senang,
Tuhan kasi nikmat kenapa aku tak kenang...

Apasal la aku malas sembahyang,
Main bola aku sanggup sampai petang,
Beli tiket konsert aku sanggup beratur panjang,
Apa la aku ingat masuk syurga boleh hutang...?

Apasal la aku malas sembahyang,
Aku kena ingat umur kita bukannya panjang,
Pagi kita sihat petang boleh kejang,
Nanti dalam kubur kena balun sorang-sorang....

Apasal la aku malas sembahyang,
siksa neraka cuba la aku bayang,
Perjalanan akhirat memang terlalu panjang,
Janji Allah Taala akan tertunai tak siapa boleh halang!!!

30 May 2011

Ujian itu Rahsia Allah

Bismillahirahmaniraheem..

Setiap manusia yang Allah cipta sentiasa akan diberi musibah,ujian atau masalah hidup didunia yang sementara ini.Tipu jika seseorang itu berkata yang dia tidak pernah ditimpa musibah. Setiap orang ada masalahnya tersendiri,Allah uji dengan berbagai-bagai ujian tetapi sebabnya adalah sama.

Allah menguji seseorang itu kerana Allah swt mempunyai rahsianya tersendiri,sama ada Allah hendak tambah iman kita atau hendak uji sejauh mana keimanan kita. Dan kerana sesuatu ujian itulah yang membuka mata hati kita,yang mendidik kita supaya jangan mudah putus asa dalam kehidupan yang bagaikan bahtera dilautan yang penuh dengan onak duri,ujian juga dapat mematangkan kita.
Kadang-kadang kita tertanya-tanya, mempersoalkan kepada Allah swt kenapa kita diberi ujian yang berat sebegitu sekali sehingga kita terlupa pada siapa yang perlu kita mengadu segala masalah kita, pada siapa kita harus minta kembali kekuatan kita. Astagfirullah, lemahnya dan rendahnya iman kita.

Tidak redha dalam menghadapi ujian yang Allah beri terhadap kita. Jika kita anggap diri kita ditimpa musibah yang besar kita hendaklah ingat bukan kita sahaja yang mengalaminya,mungkin ada sahabat-sahabat kita @ saudara seakidah kita yang lain menghadapi musibah yang sama bahkan lebih teruk atau lebih besar dari kita.
Bukankah,Allah telah berkata dengan jelas di dalam Al-Quran yang Allah tidak akan sekali-kali menguji hambaNya diluar kemampuan hambaNya. Allah tahu kita kuat dalam menghadapi ujianNya jadi Allah berikan ujian itu ke atas diri kita. Di sini kita dapat lihat betapa sayang dan kasihnya Allah kepada kita sebagai hambaNya.

Allah menguji seseorang bukan kerana Allah benci kepada kita tetapi percayalah yang Allah sangat kasih kepada kita. Cuma kita sebagai hambaNya tidak pernah hendak bersabar dalam menghadapi ujianNya. Pasti Allah telah aturkan yang terbaik buat kita kerana setiap yang berlaku ada hikmahnya.

Alihkan pandangan matamu ke arah LAUT, airnya cantik membiru dan penuh dengan ketenangan. Tetapi hanya Allah sahaja yang mengetahui rahsia di dalamnya. Begitu juga dengan kehidupan manusia, riang dan ketawa tetapi hanya Allah yang mengetahui rahsia kehidupannya. Jika rasa kecewa, alihkan pandanganmu ke arah SUNGAI, airnya tetap mengalir biarpun berjuta batu yang menghalangnya. Dan jika rasa sedih,alihkan pandanganmu ke arah LANGIT, sedarlah dan sentiasa ingatlah bahawa Allah sentiasa bersamamu.

Jadi seharusnya apa yang perlu kita lakukan? berdoalah kepada Allah, Allah lah tempat kembali segala masalah yang sering membelenggu diri kita. Jangan malu untuk merayu-rayu, meminta-minta, memohon-mohon kepada Allah swt.Selalu diingatkan yang Allah tidak pernah jemu mendengar rintihan hambaNya, Allah itu Maha Mendengar.

Dekatkanlah diri kita dengan pencipta kita yang menguasai seluruh alam, yang memegang hati-hati kita. Disamping berdoa perlulah kita berusaha menyelesaikan masalah yang dihadapi. Mungkin ada yang rasa diri mereka tidak kuat hendak hadapinya tetapi cubalah bangun! Usah tewas dengan hasutan syaitan, cari kembali kekuatan kita kerana kekuatan itu ada dalam diri kita masing-masing. Yakin dengan diri, kuatkan azam dan cita-cita. Usah tonjolkan kelemahan kita pada syaitan kerana syaitan tidak pernah berhenti menghasut agar kita lemah-selemahnya.

Jika rasa tidak kuat, carilah sahabat-sahabat yang sentiasa memberi kata-kata semangat kepada kita dan bukan sahabat yang menjatuhkan kita. Itulah pentingnya sahabat kerana kita tidak mungkin bisa hidup berseorangan.

Kita perlu tahu selepas ujian itu selesai, satu lagi ujian akan datang, maka bersedialah dalam menghadapi ujian yang seterusnya. Untung bagi mereka yang selalu diberi ujian tanda Allah swt sayang padanya. Semoga kita sentiasa menjadi hambaNya yang sentiasa redha atas ujian dan ketentuan Allah swt. Apa yang ditetapkan untuk kita itulah yang terbaik!

Retrived from:
http://www.iluvislam.com/tazkirah/dakwah/2419-ujian-itu-rahsia-allah-swt.html

17 May 2011

Ten Useless Matters


Imam Ibn ul Qayyim al Jawziyyah


There are ten useless matters:

1 - Knowledge that is not acted on
2 - The deed that has neither sincerity nor is based on following the righteous examples of others
3 - Money that is hoarded, as the owner neither enjoys it during this life nor obtains any reward for it in the Hereafter
4 - The heart that is empty of love and longing for Allah, and of seeking closeness to Him
5 - A body that does not obey and serve Allah
6 - Loving Allah without following His orders or seeking His pleasure
7 - Time that is not spent in expiating sins or seizing opportunities to do good
8 - A mind that thinks about useless matters
9 - Serving those who do not bring you close to Allah, nor benefit you in your life
10 - Hoping and fearing whoever is under the authority of Allah and in His hand; while he cannot bring any benefit or harm to himself, nor death, nor life; nor can he resurrect himself.

However the greater of these matters are wasting the heart and wasting time. Wasting the heart is done by preferring this worldly life over the Hereafter, and wasting time is done by having incessant hope. Destruction occurs by following one’s desires and having incessant hope, while all goodness is found in following the right path and preparing oneself to meet Allah.

How strange it is that when a servant of Allah has a [worldly] problem, he seeks help of Allah, but he never asks Allah to cure his heart before it dies of ignorance, neglect, fulfilling one’s desires and being involved in innovations. Indeed, when the heart dies, he will never feel the significance or impact of his sins.
 Retrived from: http://www.iluvislam.com/english/motivation/purification-of-soul/495-ten-useless-matters.html

16 May 2011

Thinking Well of Allah


“Allah SWT probably hates me. I am so bad; I always mess up. I don’t deserve any good from Allah SWT, and as punishment, I probably will not be given success in my other endeavors.”

How many people have felt this way at some point? Sometimes, our sins weigh heavily on us. We recognize our mistakes but instead of turning back to Allah SWT, we turn away. We feel that we must be so bad that even the All-Merciful will reject us. Other times, we do not see the fruits of our perseverance and believe that we will not be given what we have worked so hard for. Perhaps we do not even begin an endeavor, thinking there is no use. 

Unfortunately, when we do this, we attribute human qualities to Allah SWT. We act as if Allah SWT has some grudge against us that will heal as soon as He punishes us or rejects one of our requests. We act as though Allah SWT is just waiting for us to slip up and say “Ha! Caught you!”. We assume that we have to “deserve” the mercy of Allah by being almost perfect. This sounds absurd when articulated, but our actions unfortunately indicate that we believe otherwise.

What does this thought process actually tell us about ourselves? It tells us that we did not really have hope in Him to begin with. Rather, our hope was in what we believed to be our own good deeds or abilities. Once we slip up or feel that we do not have the strength to continue, we do not think well enough of Allah SWT to believe that He will guide us through. We must understand that when we think well of Allah, that is what we will find.

“I am as My servant’s opinion of Me.” (Bukhari)

Think well of Allah SWT when embarking on something difficult, even if you fail. 
When the most beloved person to Allah SWT, the Prophet ﷺ, was thinking of migrating to Madinah, he started talking to all of the different tribes that came for Hajj in the hopes that one of them would accept Islam or at least offer the believers protection. He spoke to twenty-six different tribes and was rejected by all of them. Some of the tribes even cursed and mocked him. Let’s stop here. He made da`wah (calling to Islam) to twenty-six tribes. Can you imagine the feeling of being rejected by five? What would happen after ten rejected you? How low would your morale be? When would you have given up? Finally, he ﷺ met a few youth from Madinah who believed in his message. He did not despair because he had a good opinion of Allah SWT, which motivated him; he knew Allah would not leave him ﷺ. Many people give up in the face of something seemingly impossible. Sometimes, we give up on an individual level: getting married, getting that job we want; sometimes it is on a global level, such as injustice in the Muslim world. The point of the struggle is to realize who is in charge. It is Allah SWT. Allah SWT has told us that He is as His servant’s think of Him. If we think well, then that is what we will find. If we do not, then that is what we will find. Your opinion should be that Allah SWT is so Merciful that He will come to your aid.

What happens when we are faced with failure? When one does not get something, even if their intention was for the sake of Allah SWT, they should not feel disheartened. You have a good opinion of Allah SWT; “failure” is just a minor setback. You need to be tested to strengthen your resolve. If you do not get that amazing job you want, know that Allah SWT has saved something better for you. Only He knows what is best for you. 

 
Think well of Allah when you sin.
What about when we constantly slip-up and cannot leave a certain sin? For some of us, this makes us give up on ourselves; we believe we don’t deserve any good from Allah. We have to remember that Allah SWT is al-Wadud (the Most Loving). His Mercy overcomes His blame. It is not about deserving. If you thank Allah, He gives you more. It is not because we deserve more, it is because Allah is that Great. He is that Generous. Shaytan (the devil) makes us focus on how bad we are in order that we despair of Allah’s mercy, when the Prophet ﷺ taught us:

“All the children of Adam constantly err, but the best of those who constantly err are those who constantly repent.” (Tirmidhi)

The Prophet ﷺ said that:

“One of the signs of excellence of one’s worship is thinking well of Allah SWT.” (Ahmad)

This does not mean that we should not reflect on our state. Al-Hasan al-Basri said A true believer is one who thinks well of Allah SWT and therefore does good, whereas the disobedient one thinks bad of Allah SWT and therefore does bad.” If we think well of Allah, no matter how bad we are, we also have hope that we can be better and thus we strive to do good deeds. If we think badly of Allah, we assume that He will never forgive us nor can He make us better; so we continue to sin. However, we should not make a mockery of this concept and deliberately sin, thinking Allah SWT will forgive us anyway. One of the key principles of repentance is regret. If we do not truly regret the sin, and simply ask for forgiveness to have that sin erased, we are paying lip service. Remember,

“You will only get what you intend.” (Bukhari)

When we do wrong, let us feel guilty, but let us also flee to Allah SWT. Have a good opinion of Allah SWT. If you are sincere, He will forgive you. He is that forgiving. He is that Great. He is that Magnanimous. Even when we commit the same sin again and again and again, our good opinion of Allah SWT should let us know that as long as we constantly strive against our nafs (lower self) and against that part of us that wants to indulge in that sin, we have already been forgiven. At the end of the day, it is shaytan who wants us to go to hell, not Allah. Allah tells us in the Qur’an: 

“Allah wants to accept your repentance, but those who follow (their) passions want you to digress (into) a great deviation.” (Surah An-Nisa' 4:27)

Shaytan does not just want you to go to hell, but also wants to ensure you live in hell in this world. Just like he despaired, he wants you to despair. Our good opinion of Allah SWT should never allow us to do that. Allah SWT wants to accept your repentance, because your repenting is recognition of His Name al-Ghaffar (the One who constantly forgives). Just as the Prophet ﷺ told us that Allah SWT is too gracious to turn away the hand that asks Him, He is also too Merciful to disappoint you and your good opinion of Him.


Think well of Allah when you are tested.
Tests come to us in a myriad of ways. We should just know that thinking well of Allah SWT should make us look beyond the test. This test is something from Allah SWT, and He wants to teach us, to purify us from sin, to strengthen us, and to bring us closer to Him. We do not have a cruel God; our God is the Most Merciful of those who show Mercy. When we approach our tests with that frame of mind, we cannot but gain from our experience, insyaAllah. 

So what does it mean to think well of Allah?
It means to take that step. When we mess up, even if we messed up in a major way, we return to Him. We return to Him recognizing that what we did was truly horrible, but we ask for His forgiveness because we know He is that forgiving, and that His Mercy encompasses everything. When we mess up again and again, and feel sick of ourselves, we return to Him with a sincere do'a (supplication) to help us stop, knowing that He will respond. It means having grand hopes and aspirations, and working towards them.

"Indeed, those who have believed and done righteous deeds - indeed, We will not allow to be lost the reward of any who did well in deeds." (Surah Al-Kahf 18:30)


Retrieved from: http://www.iluvislam.com/english/motivation/purification-of-soul/499-thinking-well-of-allah.html

15 May 2011

JOM SERTAI : Seminar Ibrah Pembukaan Konstantinopel


Assalamualaikum...

Ikhwah Akhawat sekalian

One Heart Creative Solution (OHCS) dengan kerjasama Ibrah Paradigm Training & Consultancy akan menganjurkan sebuah seminar ilmiah bertajuk “Ibrah Pembukaan Konstantinopel 1453”. Seminar ini diadakan bersempena memperingati 558 tahun penawanan Kota Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al-Fatih pada 29 Mei 1453 Masihi.

Berikut disertakan butiran program :
Tarikh     : 28 Mei 2011 (Sabtu)
Masa      : 9.00 pagi – 5.30 petang
Tempat   : Lecture Theatre 1, Kuliyyah of Engineering, Universiti Islam Antarabangsa Malaysia, Gombak.

Tujuan utama seminar ini dianjurkan adalah untuk memberi kesedaran kepada mahasiswa dan masyarakat mengenai fakta-fakta sejarah mengenai tokoh muda negarawan Islam yang unggul dari sudut intelektual dan
spiritual iaitu Sultan Muhammad Al-Fatih, pembebas kota Konstantinopel pada usia 21 tahun dengan kepimpinan berkesannya terhadap 150,000 tentera Islam.

Seminar ini juga diharapkan memberikan kesedaran maksima kepada mahasiswa dan masyarakat mengenai kepentingan sistem pendidikan yang komprehensif mencakupi aspek intelektual, spiritual, dan emosional
yang menjadi faktor utama jatuh bangun sesebuah tamadun. Faktor-faktor menjayakan misi pembukaan Kota Konstantinopel akan menjadi kes studi penting seminar ini.


Untuk makluman saudara saudari semua, pengisian seminar ni perkahwinan antara intelektual dan santai.

1. Ucaptama perasmian oleh novelis Sultan Muhammad Al-Fateh, Pak Latip atau Tuan Abdul Latip Talib

2. Dua kertas kerja penting analisa sejarah dan pelajaran sejarah akan dibentangkan oleh Prof Redzuan Othman dan Ustaz Hasrizal Jamil

3. Persembahan Little Fatih oleh Khalifah Model School. Anak jemput adik-adik2 ni sebagai mesej kita mahu membina GENERASI Al-Fatih sejak dari kecil kerana itulah rahsia keunggulan Al-Fatih sendiri.

4. Insya-Allah, seminar ini juga akan memaparkan beberapa multimedia khas yang diperolehi secara khusus dari Muzium Panorama 1453 di Istanbul, Turki. Seminar ini juga akan diserikan dengan beberapa pameran-pameran penting bergambar sekitar peristiwa pembukaan dan mengenai Muhammad Al-Fatih sejak dari kecil hinggalah pada kewafatan baginda.

Alhamdulillah juga, seminar ini akan turut diseri dengan jualan buku Jejak Konstantinopel, sebuah tesis ilmiah oleh Tuan Abdul Hamid Latip mengenai percubaan percubaan menawan Konstantinopel sejak dari zaman
Muawiyah dan Abu Ayyub Al-Ansari lagi, kebetulan ia baru muncul di pasaran.

Sehubungan dengan itu, saudara saudari yang berhasrat untuk menyumbang bagi kejayaan dan kelancaran Seminar juga sangat-sangat dialukan berbuat sedemikian. Kami menjanjikan "win-win situation" kepada setiap
penyumbang.


Sumbangan  saudara saudari semua boleh dimasukkan ke akaun kami di Bank CIMB di nombor akaun 1219-0000959-10-2 atas nama IBRAH PARADIGM TRAINING & CONSULTANCY atau 164799039713 (Maybank) atas nama MUHAMAD SYAARI BIN AB. RAHMAN.


Moga dengan sumbangan itu, dapat kami menjayakan seminar ini seperti yang dirancang.


Terima kasih dan DAFTARLAH segera dengan saudari Nur Shahidat 013-3005476

Lihat poster yang dilampirkan untuk makluman lanjut.

Muhamad Syaari bin Ab. Rahman
Penulis Buku "Kuasa Kepemimpinan Al-Fateh"
Pengarah,
Seminar Ibrah Pembukaan Konstantinopel 1453
2 Mei 2011

14 May 2011

If One Day, The Prophet Visited Us....



(peace and blessings be upon him)

I wonder........................

If Prophet Muhammad(PBUH) visited you
Just for a day or two,
If he came unexpectedly,
I wonder what you would do?
Oh I know you would give your nicest room,
To such an honored guest,
And you would serve him your very best.

You would be the very best,
Cause you're glad to have him there,
That serving him in your home
Would be a joy without compare.

But...when you see him coming,
Would you meet him at the door
With your arms outstretched in welcome,
To your visitor?

Or...would you have to change your clothes
before you let him in?
Or hide some magazines and put
The Quran where they had been?

Would you still watch those movies,
Or your T.V. set?
Or would you switch it off,
Before he gets upset.

Would you turn off the radio,
And hope he had not heard?
And wish that you did not utter
your last loud hasty word?

Would you hide your wordy music,
And instead take out Hadith books?
Could you let him walk right in,
Or would you rush about?

And I wonder...if the Prophet spent, a day or two with you,
Would you go on doing the things you always do?
Would you go right on and say the things You always say?
Would life for you continue
As it does from day to day?

Would your family conversations,
Keep up their usual pace?
And would you find it hard each meal,
To say a table grace?

Would you keep up each and every prayer?
Without putting on a frown?
And would you always jump up early,
For Fajr at dawn?

Would you sing the songs you always sing?
And read the book you read?
And let him know the things on which,
Your mind and spirit feed?

Would you take the Prophet with you,
Everywhere you plan to go?
Or, would you maybe change your plans,
Just for a day or so?

Would you be glad to have him meet,
Your very closest friends?
Or, would you hope they stay away,
Until his visit ends?

Would you be glad to have him stay,
Forever on and on?
Or would you sigh with great relief,
When he at last was gone?

It might be interesting to know,
The things that you would do.
If Prophet Muhammad, came,
To spend some time with you.

13 May 2011

The Story Of Two Best Friends


That day I spoke to a friend and she told me about how things had gone wrong between her and one of her close friends. The argument started off very simply- her friend disagreed with her choice of life partner.
And it has been years since they last spoke.

She knew that she was wrong to argue fiercely with her best friend who was just looking out for her at that time. She knew that she shouldn’t say half the things she said to her. She was wrong on that. But her worse regret was she never tried to amend what was broken and walked away from their friendship.

And now she truly missed her.

I remembered what Charles Caleb Colton said once,
 True friendship is like sound health, the value of it is seldom known until it is lost 

How many of us are blessed with close friends and best friends- the ones whom we knew loved us to the bits, the ones whom we knew would be there for us when we are in need, the ones who dared to give us the blatant truth when others preferred to zip their mouth and let us fall and the ones whom we knew would leak tears from their eyes if we were to leave the world before them?


To my friend, I reminded her of Allah’s verse in His Quran,

The recompense for an evil is an evil like thereof, but whoever forgives and makes reconciliation, his reward is due from Allah. Verily, He likes not the Zalimun (oppressors)
(Asy-Syura : 40)

Yes, that is the only way to go- reconcile.

We are living a life that is too short to make enemies, to leave things unsaid and to have frictions with the people we love.

This was not what Prophet Muhammad (may Allah’s peace and blessings be upon him) wanted us to do.

In fact, what our Prophet (PBUH) wanted us to do was this,

"When a man loves his brother he should tell him that he loves him "(Abu Dawud, Tirmidzi)

Tell the people you loved, that you loved them. Take this advice of our beloved Prophet who was sent down to guide us in our lives, who was sent to make our lives better and who only wanted good things for us in this life and hereafter.

Let me share with you a sad poem that depicts the reality of life which many of us are facing, entitled ‘Forgiving’ written by a wonderful sister and friend - Sister Linda Delgado, a Muslim author from United States of America.



Yesterdays…

What you said hurt me
I responded in anger
You meant to say you were sorry
You didn’t
I meant to forgive you
I didn’t.

What you did was so very wrong
I responded with harsh judgment
You meant to make amends
You didn’t
I meant to be more understanding
I wasn’t.

You meant to call or write
I waited hoping to hear from you
You got busy with life
You forgot
I meant to try again; to call or write
I didn’t.


Tomorrows…

You said, “I might try to change and do better.”
I said, “I won’t budge until I see your sorrow.”
You said, “There is always tomorrow.”
I said, “I will forgive on your tomorrow.”
Our tomorrow never came
One of us died.


Today…

There is today.
Don’t hold on to yesterday.
Don’t count on tomorrow.
It may not come
You have today
Don’t let love and hope slip away.

11 May 2011

ALLAH KNOWS


When you are tired and discouraged from fruitless efforts...
Allah knows how hard you have tried,
When you've cried so long and your heart is in anguish...
Allah has counted your tears,

If you feel that your life is on hold and time has passed you by...
Allah is waiting with you,
When you're lonely and your friends are too busy even for a phone call...
Allah is by your side,

When you think you've tried everything and don't know where to turn...
Allah has a solution,
When nothing makes sense and you are confused or frustrated...
Allah has the answer,

If suddenly your outlook is brighter and you find traces of hope...
Allah has whispered to you,
When things are going well and you have much to be thankful for...
Allah has blessed you,

When something joyful happens and you are filled with awe...
Allah has smiled upon you,
When you have a purpose to fulfill and a dream to follow...
Allah has opened your eyes and called you by name.
Remember that wherever you are or whatever you are facing...

ALLAH KNOWS !! 


retrieved from http://www.iluvislam.com/english/motivation/purification-of-soul/462-allah-knows.html

09 May 2011

I dedicated this beutiful song to Palestinians and to all the people struggling for freedom and dignity in the world.


I dedicated this beutiful song to Palestinians and  to all the people struggling for freedom and dignity in the world.

TAQWA: Fearing Allah


TAQWA: Fearing Allah
Taqwa can be compared to walking through a narrow path with thorny bushes on both sides and a person passing through it tries his level best to save his clothes from being torn. The thorns are the sins and the clothes is one's Eeman.


Linguistically Taqwa means forbearance, fear and abstinence, but in the Islamic terminology, Taqwa has a distinct meaning. Taqwa is a high state of heart, which keeps one conscious of Allah's presence and His Knowledge, and it motivates him to perform righteous deeds and avoid those, which are forbidden. 

The essence of Taqwa is to make a shield (which guards) against Allah's anger and punishment. That shield is to obey His commandments and abstain from His punishment. [as explained by Ibn Rajab (rahimahullah) in Jami al-Uloom wal-Hikam (190/191)]

Allah says: "O you who believe! Have Taqwa of Allah, as you should have of Him and do not die except as Muslims." [Soorah aal-Imraan (3): 102]
Ibn Mas'oud (radhiallahu anhu) said speaking about this verse, Allah is meant to be obeyed, and not disobeyed; remembered at all times, and not forgotten; and to be thanked; and we are not to be ungrateful to Him."
Talq Ibn Habeed (a tabi'e) said: "Taqwa (piety) is that you act in obedience to Allah, and hope in His Mercy, upon a light from Him; and Taqwa is leaving acts of disobedience to Allah out of fear of Him, upon a light from Him." [(Saheeh) by Shaikh al-Albanee. Related by Ibn Abee Shaybah in Kitaabul-Emaan (no: 99)]

Taqwa alone is the criterion of greatness in the Sight of Allah
Allah says: "O mankind! We have created you from a male and a female, and made you into nations and tribes, that you may know one another. Verily, the most honorable of you with Allah is that (believer) who has Taqwa (God-consciousness, fearing Allah). Verily, Allah is All-Knowing, All-Aware." [Soorah al-Hujurat (49): 13]

Allah has erased all distinctions of racism, cast and color and made all human beings equal. He has established a unique criterion for greatness and that is Taqwa. Taqwa is the essence of the teachings of Allah's Messenger (sallalahu alaihe wa-sallam).

Whenever Allah's Messenger (sallalahu alaihe wa-sallam) sent his Sahabah on a military expedition, he would advice them to have deep-rooted Taqwa of Allah and he would also advise the rest of his military party likewise.
The Pious Predecessors (salaf as-Saalih) continued this practice of giving mutual advice of Taqwa after Allah's Messenger r passed away. Umar Ibn Khattab (radhiallahu anhu) wrote to his son, Abdullah: "To proceed: 'Verily I advise you to have taqwa (fear) of Allah, the Mighty and Majestic, for whoever fears Him, Allah will protect him, and whoever gives a loan to Him, Allah will reward him, and whoever thanks Him, Allah will increase Him."

Some benefits of Taqwa
1. Taqwa is a means by which a believer performs righteous deeds and Taqwa causes the righteous deed to be accepted by Allah.
Allah says: "O you who believe! Have Taqwa (fear) of Allah and always speak the truth. He will direct you to do righteous and correct actions and will forgive you your sins and whoever obeys Allah and His Messenger has indeed attained a great achievement." [Soorah al-Ahzaab (33): 70]
and: "Verily Allah accepts only from those who are the muttaqoon (those who posses Taqwa)." [Soorah al-Maaidah (19): 71-72]
 
2. Taqwa makes one deserving of Allah's Pleasure and Love. Allah says: "Verily, the most honorable of you in the Sight of Allah is that (believer) who has Taqwa." [Soorah al-Hujurat (49): 13]
and: "Whoever fulfills his pledge and has Taqwa of Allah much, then indeed, Allah loves those who are muttaqoon (those who posses Taqwa)." [Soorah Aal-Imraan (3): 76]

3. Taqwa causes sins to be forgiven and increases rewards. Allah says: "And whoever fears Allah and keeps his duty to Him. He will remit his sins from him, and will enlarge his rewards." [Soorah at-Talaaq (65): 5]

4. Taqwa keeps one steadfast on the Straight Path and protects him from deviation.
Allah says: "O you who believe! Have Taqwa of Allah. He will give you a Furqaan (criterion to judge between right and wrong)." [Soorah al-Anfaal (8): 29] 

Imaam Ibn al-Katheer (rahimahulla) said in his Tafseer, 'Ibn Abbas, as-Sudde, Ikrimah, adh-Dahhak, Qataadah and Muqaatil, Ibn Huyyan, all said about 'Furqaan' that it means a way out (from difficulty). 

Mujaahid added: 'A way out from difficulty both in this world and in the Hereafter.' In a narration from Ibn Abbas, he said: "It means, 'Salvation' and in another narration from him 'being helped.' Muhammad Ishaaq said that it means: 'A criterion to judge between truth and falsehood.' This explanation from Ibn Ishaaq is the most general of what has proceeded and it is a necessary consequence of it. Since whoever has Taqwa of Allah by obeying His commands and abandoning what He has prohibited, will be given the ability to recognize truth from falsehood.

This will be the cause for his salvation, his being helped; and the cause for his worldly affairs being made easier and his happiness on the Day of Judgment. It will be the cause for his sins to be expiated by Allah, and his being granted forgiveness and Allah shielding him from the people. It will likewise be the cause of him being the recipient of a great reward from Allah, as He the Most High says: "O you who believe! Have Taqwa (fear) of Allah and believe in His Messenger; and He will provide you with a light by which you will walk." [Soorah al-Hdeed (57): 28]



How to achieve Taqwa?
Allah says: "O mankind! Worship your Lord, Who created you and those who were before you so that you may become al-Muttaqoon." [Soorah al-Baqarah (2): 21]

Thus, Taqwa is the fruit of Eebadah (worship) and and can only be achieved by performing acts of Eebadah. Therefore we often find Allah mentioning Taqwa with Eebadah, he said regarding the fasts of Ramadaan: "O you who believe! Fasting is prescribed for you as it was prescribed for those before you, that you may become muttaqoon (those who posses Taqwa)." [Soorah al-Baqarah (2): 183]


Who is the most righteous?
Allah says: "And whosoever honors the symbols of Allah, then it is truly from the piety of the heart." [Soorah al-Hajj (22): 32]

Thus, Taqwa inhabits the heart and it is only within the capability of Allah to know what the hearts conceal. Therefore, judging people's righteousness and spirituality is beyond the ability of the slave, Allah pointed out to this fact when he said: "There is among people, he whose speech will dazzle you in this life and he will claim that Allah is witness (to the sincerity of) what is in his heart, yet he will be among the most vicious enemies (of mankind)." [Soorah al-Baqarah (2): 204]

It is mentioned in the Qur'aan that Allah chooses His Awliya (singular 'wali' ling. meaning Friend) from His slaves based upon their righteousness. 

Allah mentioned the characteristics of His Walee saying: "Verily, Awliya of Allah are those who are not overcome by fear of grief; they are those who believe and have Taqwa." [Soorah Yoonus (10): 62-63] 

and: "Verily, His close friends (Awliya) are only those with Taqwa but most of them do not realize it." [Soorah al-Anfaal (8): 34] Thus, a Walee of Allah is he, who has Eeman, Taqwa and fear of Allah.

Unfortunately, many Muslims have exaggerated in this matter and specified some individuals to be 'Awliya of Allah', while assuming piety and righteousness for them. This practice is incorrect because the characteristics, which Allah mentions about His Awliya (Eeman and Taqwa) are matters of the heart and knowing them is beyond the capability of the slaves. Also, because these characteristics are present in every believer in varying degree, therefore, to specify some individuals to these qualities is unjust.

This practice of elevating people to specific ranks of piety and giving them certain status is a practice imported from Christianity and Hinduism. It was the practice of the Christians that they would elevate some individuals to great ranks for whom they assumed spirituality. And this was the main cause, which destroyed their religion. 

It is also seen that tombs are built at the graves of these so-called 'Awliya of Allah' and prayers are directed to them, either believing them to be intercessors or benefactors. This practice is in complete contradiction to the teachings of Islam. Islam teaches worship of One True Lord and fearing Him alone. 


retrieved from http://www.ahya.org/amm/modules.php?name=Sections&op=viewarticle&artid=154 

Wahai Pemuda Harapan Agama...Disini ada nukilan buatmu...

(^-^) Buat bakal imamku...


Salam sedingin titisan embun pagi ku utus buat fatayat Islam sekalian… apa khabar iman di hati? Moga-moga sentiasa mekar dengan kuntuman iman dan zikrullah. Hmmm..sudah lama rasanya ana tak meluangkan masa untuk mencoretkan sesuatu di laman ini. Post-post sebelum ini hanya mampu untuk ana copy sahaja. insyaAllah hari ini kesibukan itu makin berkurangan, ana bakal menurunkan mandat ana tepat jam 2.30 petang nanti. MasyaAllah, sungguh pantas masa berlalu. Sedar tak sedar ana sedang menghampiri SPM, bakal meninggalkan bumi bertuah Maahadil Mahmud ini, arghh…begitu pantas masa berlalu, tapi Ya Allah hati kecil ini mahu tetap di sini hingga tamat tingkatan 6 namun Yaman seakan-akan melambaiku dari sini. Impianku adalah untuk menjejakkan kaki ke tanah bertuah bumi kelahiran Habib Umar.
 
Maahadku,
 
                Di sinilah ana mula mengenali erti tarbiah yang sebenarnya. Di sinilah ana dlatih untuk menjadi kuntuman mawar yang mekar untuk agama tercinta. Jiwaku sufi, mindaku haraki. Azam ana untuk menjadi serikandi sufi, sekalipun tak sehebat Rabiatul Adawiyah cukuplah sekadar menjadi serikandi sufi yang sentiasa menagih cinta-Mu, menanti Syurga-Mu Ya Allah. Saban hari ku terfikir, mampukah diri ini menghijabkan cinta manusia dari diriku Ya Allah…? Kadang-kadang hadir perasaan hati untuk menyukai Syabab,namun ana tepis jua, cintaku pada-Mu melebihi segala-galanya, ku cuba untuk menjadi keras, keras seperti batu. Ku takut ya Allah, Kau akan mengujiku lagi dengan gelodak perasaan ini.
Syabab harapan agama,
 
                Ana sedih melihat kalian.Di mana syabab yang boleh diharap untuk menjaga kami kaum Hawa yang lemah? Baru-baru ini ana terbaca surat khabar, seorang lelaki merogol teman wanitanya di hadapan ibunya sendiri. Ana beristigfar panjang tika membaca berita ini. Lelaki hari ini hanya seperti binatang yang bertopengkan manusia. Sunggu jijik!. Sedih hati ini, masih ada lagikah lelaki yang boleh diharap pada hari ini? Syabab harapan agama, turut menjadi harapan ana, kerana syabab harapan agama juga adalah bakal imam buat diriku dan buat fatayat sekalian.
 
          Ana bermonolog sendirian, pernah ana nyatakan untuk tidak berkahwin, kerana perkahwinan bukan suatu yang mudah. Tambah pula apabila mengenangkan syabab hari ini sudah tidak berkualiti, sesungguhnya ku merindui syabab keluaran Madrasah Nabi… Tapi…perkahwinan kan satu sunnah, hmm…ana serahkan segala-Nya pada Allah, jika ada jodoh ada la. Ana pun tak pasti siapakah bakal imamku? Pengharapan kita pada Allah jadi serahkan segala-galanya pada-Nya.
 
Buat bakal imamku,
 
          Aku tak pasti dan tak tahu siapakah bakal imam yang akan mengemudi masjid yang bakalku bina suatu hari nanti. Namun,hanya satu harapan ana, ana mengharapkan Allah menghadirkan ana seorang syabab yang mampu membimbing diri ke jalan yang diredhai-NYA. Buat bakal imamku, ketahuilah aku bukanlah seorang wanita yang cantik rupa parasnya, yang lembut tuturnya, ku hanya insan biasa yang terkadang melakukan salah dan silap, jangalah mengharapkan kesempurnaan dari diri yang hina ini.
 
          Aku inginkan seorang suami yang mampu menjadi imam tika ku ingin solat, yang mampu bersamaku dalam perjuangan ini. Sedarlah bakal imamku, telahku pasakkan cintaku buat perjuangan Islam. Sedarlah bahawa bakal isterimu ini telah menginfakkan dirinya untuk perjuangan Islam kerana syahid impiannya. Jadilah dikau bakal imamku, yang sentiasa membenarkan setiap derap langkahku untuk perjuangan jihad ini.
Buat bakal imamku,
 
          Cita-citaku adalah untuk mati syahid sebagai mujahidah yang memperjuangkan Islam. Sanggupkah engkau bersamaku dalam perjuangan ini. Aku tak mahu bakal imamku tidak menyibukkan dirinya untuk memikirkan masalah ummah. Tak sanggup rasanya aku melihat bakal imamku hanya bersenang di rumah sedangkan ummahnya sedang menderita. Buat bakal imamku, jika kau mengahwiniku, maka kau juga perlu berkahwin dengan perjuangan jihad ini. Ya Allah Kau kurniakanlah aku seorang suami yang turut berjuang bersama untuk menegakkan syiar ISLAM. ALLAHUAKBAR!

Coretan hatiku,
Serikandiumar93
14 Julai 2010

08 May 2011

Nukilan Pernikahan Buat Anakku

Karya nukilan datuk saudaraku yang ditulis buat anak beliau. Saya berbesar hati untuk berkongsi nasihat-nasihat tersebut yang bagi saya sangat bernilai dan begitu menyentuh. Semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian. Nama-nama telah dipadamkan atas sebab privasi. (NH)

——————————————-
Drs H. Fathi Siregar
15 April 2011, Jakarta
Assalamu’alaikum wr wb.
  

Alhamdulillah segala puji kita persembahkan ke hadrat Allah swt. Maha Suci “Dia yang menciptakan manusia dari air, lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah (hubungan kekeluargaan yang berasal dari perkahwinan) dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.” (Al-Furqan : 54)
Selawat dan salam semoga tercurah pada junjungan kita Nabi Muhammad (SAW) yang menegaskan “Perkahwinan adalah sunnahku, siapa yang tidak suka sunnahku maka dia bukan termasuk golonganku.”
Nikah adalah perintah Allah dan sunnah Rasulullah (SAW) yang tujuannya ditegaskan dalam al-Quran surat Ar-Rum ayat 21 yang bermaksud:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari  jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
Itulah tujuan berumah tangga menurut Islam, melahirkan ketenangan dan ketenteraman serta tumbuhnya kasih sayang. Senada dengan itu, Marie Van Ebner pernah berkata : “Bila di dunia ini ada syurga, maka syurga itu ialah pernikahan yang bahagia. Sebaliknya, jika di dunia ini ada neraka, maka neraka itu adalah pernikahan yang gagal.”

Ketenangan dan ketenteraman, penuh kasih dan sayang, baru akan dirasakan oleh anakanda berdua jika mampu menangkap secara benar erti dan makna yang terkandung dalam ijab-qabul.
Ijab adalah ucapan penyerahan dari sang wali kepada mempelai lelaki. Qabul adalah ucapan penerimaan mempelai lelaki dari walinya.
Ijab-qabul yang di dalam al-Quran disebut ‘mitsaqan ghalizha’ = ‘ikatan yang kuat, perjanjian yang berat”. Hakikatnya adalah proses alih tanggungjawab dari seorang wali kepada menantunya.

Ketika ayahanda (pengantin perempuan) berkata,
“Saya nikahkan, kahwinkan (pengantin lelaki) dengan anak saya (pengantin perempuan)…” – sebenarnya ayahanda (pengantin perempuan) sedang berkata, “Anakanda (pengantin lelaki) – hari ini Bapa limpahkan tanggungjawab Bapa atas (pengantin perempuan) kepada kamu, yang selama ini menjadi tanggungjawab kami mengurus, mengawasi, membimbing dan mendidik serta memberi nafkah, hari ini kami serahkan kepada anakanda. Semoga anakanda menerima (pengantin perempuan) dengan ikhlas dan penuh tanggungjawab.” (Inilah dikatakan melihat menerusi mata hati)

Ketika (pengantin lelaki) menjawab, “Saya terima nikahnya, kahwinnya puteri Bapa…” – sebenarnya (pengantin lelaki) sedang berkata, “Bapa, limpahan amanah Bapa Insya Allah saya terima dengan penuh keikhlasan dan tanggungjawab. Saya akan pikul amanah ini dengan sebaik-baiknya. Bapa dan Ibu, iringi dan payungi perjalanan kami berdua dengan doa tulus dari Bapa dan Ibu, agar kami tidak kehilangan cahaya dalam menempuh hidup ini.”

Dengan ijab-qabul, maka terjadi perubahan besar; yang haram menjadi halal, yang maksiat menjadi ibadat, kekejian menjadi kesucian, kebebasan menjadi tanggungjawab, nafsu pun berubah menjadi cinta dan kasih sayang.

Kerana itu Rasulullah (SAW) dalam satu hadith berpesan kepada setiap calon suami:
Takutlah kalian kepada Allah dalam hal wanita (isteri). Kerana sesungguhnya kamu mengambil dia sebagai amanah. Dan kamu telah menghalalkan dirinya dengan kalimat Allah. Kamu harus memberi dia (isteri) nafkah zahir dan batin dengan baik.”
Dari hadith ini, suami diingatkan oleh Rasulullah (SAW) untuk senantiasa takut kepada Allah dan bertanggungjawab dalam tiga hal:
  1. Mengambil wanita sebagai amanah
  2. Menghalalkan wanita dengan kalimat Allah
  3. Memberi nafkah zahir dan batin kepada isteri dengan rezeki yang baik dan halal
Anakku! Pernahkah kalian merenung sebelum memasuki pintu gerbang pernikahan ini, apa maksudnya? Yakinkah anakanda sebelum orang tuamu yakin bahawa anakanda berdua telah siap?
Sedarkah kalian, bahawa di hadapan sana, ada ombak dan gelombang yang dapat menghempas dan mematahkan kemudi atau paling tidak riak dan getaran yang dapat mengolengkan perahu? Sudah siapkan anakanda berdua dengan bekal? Biasanya yang dipersiapkan calon pengantin adalah bekalan material. Hal ini penting, akan tetapi yang lebih penting lagi adalah bekalan rohani serta mental.

Untuk mendapatkan bekal ini bukan hanya diperlukan cinta tetapi yang melebihi cinta.
Islam memerintahkan kepada setiap orang agar pandai-pandai memilih pasangan calon suami dan calon isteri dan yang menjadi keutamaan pilihan adalah agama. Mengapa agama menjadi keutamaan? Kerana agama merupakan tapak utama bagi keberlangsungan setiap kegiatan kehidupan. Nabi (SAW) memperingatkan agar umatnya memilih pasangan yang baik agamanya.
Sabda Rasulullah (SAW) :
“Raihlah yang mematuhi agama, kerana (kalau tidak) engkau akan sengsara.” (H.R Abu Hurairah)
Pelajarilah bagaimana Luqman menanamkan nilai-nilai agama ke dalam jiwa anaknya dan ingat pula akan pesan al-Quran :
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (At-Tahrim : 6)
Hidup tanpa agama yang hak, membuat apa yang telah dan akan dicapai tidak akan memberi kebaikan, bahkan menjerumuskan manusia ke dalam neraka. Kami yakin bahawa anakanda berdua telah melakukan pilihan yang tepat, oleh kerana itu anakku kami tidak memaksa anakanda tetapi merestuinya. Anakanda berdua Insya Allah adalah pasangan yang tepat dan yang diredhai Allah SWT dan kami mengharapkan perkahwinan anakanda ini akan berlanjut hingga hari kemudian.
Selama ini kalian menjadi amanah ditangan kedua orang tuamu. Sekuat kemampuan kami telah berusaha melaksanakan amanah itu. Sedarkah anakanda apa yang dilakukan ibu dan ayahmu? Kasih orang tua kepada anaknya melebihi kasih mereka kepada dirinya sendiri. Bahkan tidak jarang orang tuamu melampaui batas yang diberikan Allah, kerana boleh jadi ada perintah-Nya yang dilanggar demi memenuhi keinginanmu. Ada syubhat yang dilakukan untuk mengundang senyummu.
Amanah yang dibebankan Allah kepada kami orang tuamu sekuat kemampuan telah kami tunaikan. Semoga Tuhan Yang Maha Sempurna tidak menilainya kurang dan dapat mengampuni segala dosa dan kesalahan ayah bundamu.

Kini anakanda telah memasuki pintu gerbang perkahwinan, giliran kami orang tuamu menyerahkan amanah itu kepada kalian. Sebelum anakanda jauh berlayar renungkanlah bekal-bekal dan nasihat yang telah diberikan ahli keluarga, tuan guru dan orang tuamu.

Anakanda berdua,
Pernikahan yang telah anakanda laksanakan adalah merupakan perikatan, perjanjian dan permuafakatan. Akad nikah ini memiliki kedudukan yang amat penting dalam syariat Islam dan mempunyai posisi tempat yang sangat mulia. Tuhan menyebut akad nikah antara dua orang anak manusia sebagai ‘mitsaqan ghalizha’. Tuhan menegur suami-suami yang berbuat zalim, merampas hak isterinya, seperti ditegaskan dalam firman-Nya:
“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebahagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat (mitsaqan ghalizha).” (An-Nisa’ : 21)
Oleh kerana itu anakanda, akad nikah yang kalian lakukan seperti yang diuraikan di atas mengandungi misi yang mulia. Dengan akad nikah, Tuhan memberikan kehormatan kepada anakanda untuk memikul misi yang mulia itu. Apa yang harus dilakukan suami isteri dalam melayari samudera kehidupan?

Anakanda,
Anakanda harus mengisi bahtera rumahtangga kalian dengan ketenteraman, cinta dan kasih sayang. Kerana itu, setiap perilaku anakanda berdua yang mendatangkan kedamaian, ketenteraman dan ketenangan dalam keluarga adalah ibadah. Dengarkan sebagaimana Rasulullah (SAW) memuji setiap perilaku yang mendatangkan kebahagiaan di tengah-tengah keluarga. Kepada laki-laki, Rasulullah (SAW) bersabda : “Duduknya laki-laki, berbincang-bincang dengan keluarga lebih dicintai Allah SWT daripada i’tikaf dimasjid.” Kepada perempuan, Rasulullah (SAW) bersabda: “Bila seorang isteri memberikan minuman kepada suaminya seteguk air, itu lebih baik baginya daripada ibadah satu tahun.” Kepada keduanya, Rasulullah (SAW) bersabda: “Orang yang paling baik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.” (Mizan al-Hikmah, 4 : 286-287)

Tujuan dan makna di adakannya perkahwinan adalah untuk kebaikan hidup manusia, iaitu melalui limpahan mawaddah dan rahmah yang diterimanya dari Allah. Orang yang jiwanya diisi oleh mawaddah selamanya dia akan dijauhi dari keburukan, kedengkian serta segala sifat-sifat yang dapat merusak lahir dan batin. Dalam jiwa yang mawaddah ini hati dan hidup manusia akan selalu dibimbing dalam rasa kasih sayang dan cinta kasih yang dalam, sehingga tali hubungan antara manusia akan terjaga selamanya. Ketenangan dan ketenteraman jiwa suatu kondisi psiko-rohaniah yang terasa menyejukkan, juga akan dialami oleh insan yang hidup dalam tali perkahwinan.

Mawaddah adalah peningkatan lebih tinggi dari mahabbah yang hanya berupa rasa saling tertarik antara lelaki dan perempuan kerana segi lahiriah dan jasmani belaka, seperti tampan dan cantik. Mawaddah tumbuh tidak lagi atas pertimbangan lahiri dan jasmani, tapi atas dasar penghargaan yang sejati antara satu sama lain dan atas dasar nilai-nilai batiniah kemanusiaan. Maka jika mahabbah adalah cinta kasih jasmani atau keragaan (fisik), mawaddah meningkat menjadi cinta kasih nafsani dan kejiwaan (psikis) yang lebih mendalam.

Jika terus tumbuh dan berkembang dengan sihat dan utuh, hubungan cinta kasih suami isteri dapat meningkat lebih tinggi lagi, menjadi cinta kasih ruhani atau kesukmaan (spiritual), menuju rahmah, cinta kasih Ilahi yang Rahman dan Rahim. Semua kita harus berusaha mencapai tingkat cinta kasih Ilahi ini.
“Mereka yang cinta kasih akan dicinta kasihi oleh Yang Maha Cinta Kasih. Cinta kasihilah olehmu penghuni bumi maka penghuni langit akan cinta kasih kepada kamu. Rahm (cinta kasih) adalah syujnah (jaringan) dari al-Rahman (Yang Maha Cinta Kasih). Barangsiapa menyambung tali cinta kasih itu, maka jaringan dari Yang Maha Cinta Kasih akan menyambungnya dan barangsiapa memutuskan cinta kasih itu maka jaringan dari Yang Maha Cinta Kasih itu akan memutuskannya.” (H.R Ahmad)
Membina hubungan yang akrab antara lelaki dan wanita dalam kehidupan manusia adalah kenyataan kemanusiaan lainya. Pernikahan adalah cara yang alami dan wajar untuk mewujudkan kecenderungan alami seorang lelaki kepada seorang perempuan, dan untuk membangun keluarga. Kerana itu, pernikahan yang setia berada dalam santunan Allah dan pelindungan-Nya, kerana pernikahan serupa itu sesungguhnya dibuat dan ditegakkan di bawah nama-Nya. Cubalah kita camkan firman suci berikut:
“Wahai sekalian umat manusia! Bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa, kemudian dari satu jiwa itu diciptakan oleh-Nya jodohnya, dan dari pasangan dua jiwa tiu dikembang-biakkan banyak lelaki dan perempuan. Bertaqwalah kamu sekalian kepada Allah, yang dalam Nama-Nya kamu bermohon, dan jagalah hubungan kasih sayang (tali kekeluargaan). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui atas kamu sekalian.” (An-Nisa’ : 1)
Bersambung…insya allah...




Retrieved from http://nurjeehan.hadithuna.com/2011/05/nasihat-pernikahan-buat-anakku/#more-3791

03 May 2011

Kematian Palsu Osama Laden & Tamat Konspirasi 9/11: Peralihan Pax Americana kepada Pax Judaica.


Sumber kajian the truth movement of 9/11 melaporkan, nama Osama Laden tidak pernah wujud. Dia sebenarnya adalah seorang ejen CIA yang bernama Tim Osama. al-Qaeda juga tidak pernah wujud kerana wartawan British pernah mendedahkan bahawa rakyat Afghans sebelum ini tidak pernah mendengar nama Osama Laden @ al-Qaeda. Kedua-duanya adalah dongeng Amerika (Pax Americana) untuk menjayakan konspirasi 9/11 untuk menjadikan Islam sebagai sasaran. Yang wujud hanyalah Taliban sahaja! al-Jazeera-lah punca kita semua mempercayai bahawa al-Qaeda dan Osama itu benar-benar wujud. al-Jazeera telah disahkan mempunyai hubungan sulit dengan kerajaan Amerika demi menjayakan propaganda perang anti-pengganas. Berita tentang kematian kononnya mayat Osama Laden hari ini hanyalah sandiwara AS dalam menjayakan misi berangkai (Britannica-Americana-Judaica), yang sebenarnya, kematian tersebut sebagai simbolik yang menandakan telah berakhirnya (telah berjaya) konspirasi 9/11 selepas dijayakan 10 tahun lalu dan AS sudah boleh menutup buku konspirasi tersebut kepada dunia. Apa yang berlaku hanyalah pembunuhan karektor Osama Bin Laden dan bukan jasadnya sebagai tanda tamatnya misi 'memerangi pengganas' dalam dunia Islam dan babak baru akan berlaku sedikit masa lagi. Persoalannya, tidakkah timbul perasaan ingin tahu dalam diri kita, bahawa segala berita-berita berkaitan Osama Laden hanya al-Jazeera-lah yang paling awal menyiarkan dan mendedahkan video footage atau rakaman percakapan beliau..? hairan...? kita rakyat di Malaysia kebanyakannya percaya oleh kerana kita hanya mendapat info dan berita dari satu sumber sahaja iaitu mainstream media yang menjadi pewaris kepada media propaganda Barat. Lihatlah, apabila Pejuang Islam dikatakan (RTM, TV3, Utusan) sebagai pengganas. Minda rakyat Malaysia perlu dibuka dan dibasuh kerana sekian lama terpenjara dalam penjajahan minda oleh Barat. Di dalam kita asyik dihidangkan oleh politik lokal, adakalanya kita perlu ada inkuiri terhadap politik luar dari sumber-sumber yang sahih dari internet.

Dari perspektif eschatologi Islam pula, kematian yang kononnya 'osama laden' adalah suatu indikator yang penting kepada sejarah dunia order baru, dimana ia menunjukkan bahawa misi 9/11 (kemuncak Pax Americana) atau lebih tepat misi menjadikan Islam sebagai sasaran sudah berjaya selepas 10 tahun nama Osama Laden di jadikan kambing hitam untuk menyerang dunia Islam. Indikator ini menunjukkan bahawa misi Pax Americana telah dan hampir berjaya dan kini tiba sedikit masanya lagi kita menunggu ia akan beralih pula tangan kepada Israel (Pax Judaica) untuk melengkap misi agung The Anti-Christ (al-Masih). Allahu A'lam.


Dari pandangan hadis Sahih Muslim. Justifikasi kepada kejadian inilah yang dikatakan bahawa Pax Judaica akan mengambil alih dari Pax Americana sedikit masa sahaja lagi adalah untuk menjayakan misi dalam merintis jalan kepada The Anti-Christ (al-Massih) mewujudkan politically monarchy di Israel dan seterusnya memerintah dari Jerusalem sebagai Raja Israel (Zaman kegemilangan II selepas takhta Nabi Sulaiman a.s sebagai Zaman Kgemilangan I). Sila rujuk 'a day like a month' to 'a day like a week' iaitu yaumun ka sahrun - yaumun ka jum'ah sebelum Sea of Galilee kering sepenuhnya yang dijangka saintis yahudi kurang 50 tahun lagi. sedikit masa sahaja lagi. Allahu A'lam.   

Untuk lebih memahami pengajian Eschatologi Islam, sila rujuk artikel-artikel sebelum ini. Segala justifikasi kepada kaedah Hadis ini dirujuk dari Guru-ku, Sheikh Imran Nazar. Hosein. Beliau tidak memaksa umat Islam mempercayai segala kajian dan kata-katanya di dalam kaedah Eschatologi Islam, akan tetapi beliau pernah berkata "apabila kebenaran itu hadir, anda kelihatan seperti keldai yang terpinga-pinga", merujuk kepada kejatuhan nilai Dollar AS dan peralihan kepada Electronic Money pada hari ini telah berada dalam beberapa kajian dan buku beliau 15 tahun lepas. Kepada yang baru mengenali Eschatologi Islam, bacaan ini agak berat untuk difahami, rujuklah artikel-artikel sebelum ini, sesungguhnya, ia akan membantu kita semua dalam pemahaman tentang plot dunia order baru di akhir zaman. Allahu A'lam. Eschatologi Islam adalah bukan satu bidang pencerapan atau penilikan dan Sheikh Imran Hosein bukanlah seorang ahli nujum. Ianya suatu kaedah yang dibongkar dan dibuat justifikasi dari al-Quran dan Hadis Sahih untuk 'membaca' proses akhir zaman yang telah, sedang dan akan berlaku. Sebagai contoh, matahari akan terbit dari Barat adalah merupakan suatu tanda besar akhir zaman. Inilah Eschatologi Islam. Allahu A'lam.

Retrived from https://www.facebook.com/note.php?note_id=189939727719237

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Follow my page

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls